(Review Buku) Le Petit Prince - Pangeran Cilik


Buku pertama yang akan saya review di blog ini adalah Le Petit Prince atau Pangeran Cilik. Sengaja saya pilih Pangeran Cilik untuk di-review duluan karena ini termasuk salah satu buku favorit saya. Buku yang ditulis oleh Antoine de Saint-Exupery ini sebenarnya bukan termasuk buku baru. Kalau melihat riwayatnya, Pangeran Cilik ditulis antara tahun 1941-1943, ketika penulisnya berada dalam pengasingan saat Perang Dunia II. Menariknya adalah buku ini konon pernah diterjemahkan dalam 230 bahasa asing. 

Dalam review kali ini, saya akan memberikan sinopsis dari cerita Pangeran Cilik dan kesan-kesan yang saya dapat setelah membacanya. Without any further due, let's check this out :-)


Sinopsis

Kisah Pangeran Cilik bermula dari narasi seorang lelaki dewasa tentang gambar yang dibuatnya saat masih kecil. Sayangnya, gambarnya yang penuh imajinasi ini tidak dipahami orang-orang dewasa sekitarnya. Sampai ketika dirinya sudah dewasa, dia memilih profesi layaknya orang-orang dewasa pada umumnya, yaitu pilot, dan bergelut dengan topik-topik yang sering dibicarakan orang dewasa. 

Pada suatu malam, pesawat terbang-nya mogok di tengah Gurun Sahara. Di sinilah sang Pilot (saya sebut Pilot karena tidak ada nama tokohnya), bertemu dengan seorang anak ajaib, yaitu Pangeran Cilik. Pangeran Cilik sangat suka bertanya, termasuk menanyakan pesawat terbang yang dikemudikan sang Pilot. Perlahan, Pilot pun tahu bahwa Pangeran Cilik berasal dari planet lain.

Cerita pun mengalir melalui percakapan Pilot dan Pangeran Cilik. Tentang kebiasaan-kebiasaan Pangeran Cilik merawat planet-nya, penjelajahan Pangeran Cilik ke planet-planet lain, percakapan bijak antara Pangeran Cilik dengan rubah, dan pergulatan batin-nya dengan sang Mawar. 


Yang saya dapat setelah baca Pangeran Cilik

1. Memahami Perspektif Orang Lain

"Kalau seseorang mencintai bunga yang hanya tumbuh setangkai saja di sekian jutaan bintang, itu cukup supaya ia bahagia bila memandang bintang-bintang itu. Ia berkata dalam hati, 'Bungaku ada nun jauh di sana...' Tetapi bila domba memakan bunganya itu, baginya seakan-akan semua bintang tiba-tiba padam. Dan itu tidak penting?" (kata Pangeran Cilik kepada Pilot).

Kebanyakan pertengkaran atau keributan dalam suatu hubungan bermula dari perbedaan cara pandang. Apa yang menurut kita penting, belum tentu menurut orang lain penting. Dan apa yang menurut kita tidak penting, bisa menjadi sangat penting bagi orang lain. Padahal, ini bukan masalah benar atau salah, tapi bagaimana cara setiap orang melihat suatu permasalahan. Kalau saja kita bisa belajar untuk memahami cara pandang lawan bicara kita, kita bisa meminimalisir pertengkaran hebat yang tidak perlu. 


2. Belum Memahami Pasangan Sepenuhnya, Bukan Berarti Tidak Cocok

Pangeran Cilik memiliki hubungan spesial dengan bunga Mawar-nya. Kalau menurut saya, Mawar ini adalah sebuah perumpamaan untuk pasangan atau kekasih. Karena ini kan sebenarnya cerita anak-anak, jadi pesan-pesan tentang kasih sayang dituliskan secara tersirat. 

Mawar ini adalah satu-satunya bunga di planet-nya. Setiap hari dia merawat sang Mawar dengan telaten sampai Pangeran Cilik merasa tersiksa dengan sikap Mawar-nya yang cepat marah dan banyak permintaan. Karena konflik batin-nya dengan Mawar yang terus-menerus, Pangeran Cilik memutuskan untuk pergi dari planet-nya, dan meninggalkan sang Mawar.

"Aku tidak mengerti apa-apa waktu itu! Seharusnya aku menilainya atas dasar perbuatannya, bukan kata-katanya. Ia mengharumi dan menerangi diriku. Aku tidak pantas melarikan diri. Aku semestinya menebak kemesraannya dibalik tipu dayanya yang kekanak-kanakan. Bunga-bunga begitu penuh kontradiksi! Tetapi waktu itu aku masih terlalu muda untuk bisa mencintainya."

Ketika kita bertengkar terus-menerus dengan pasangan, belum tentu itu menandakan bahwa kita tidak cocok. Mungkin karena kita masih belum cukup dewasa untuk menerima perbedaan di antara kita. Mungkin juga karena kita belum memahami pasangan kita sepenuhnya. Dan proses memahami pasangan itu seumur hidup. Buktinya, orang tua kita yang sudah bersama selama lebih dari 20 tahun saja masih bisa ribut-ribut kecil karena perbedaan pendapat. Asal perbedaan itu bukan sesuatu yang prinsipil, anggap saja keributan-keributan kecil itu sebagai pelajaran untuk semakin memahami pasangan kita.


3. Tanggung Jawab dengan Komitmen yang Telah Dibuat

Suatu ketika Pangeran Cilik bertemu dengan seekor Rubah dan mengajaknya bermain. Akan tetapi, si Rubah menolaknya karena dia belum dijinakkan oleh Pangeran Cilik. 

"Buatku, kamu masih seorang bocah saja, yang sama dengan seratus ribu bocah lain. Dan aku tidak membutuhkan kamu. Kamu juga tidak membutuhkan aku. Buat kamu, aku hanya seekor rubah yang sama dengan seratus ribu rubah lain. Tetapi, kalau kamu menjinakkan aku, kita akan saling membutuhkan. Kamu akan menjadi satu-satunya bagiku di dunia. Aku akan menjadi satu-satunya bagimu di dunia..."

Manusia adalah makhluk yang saling membutuhkan. Semua relasi yang kita bangun pada dasarnya adalah sebuah akibat karena sebagai individu kita menyadari tidak bisa berdiri sendiri. Oleh Antoine, hubungan pertemanan atau percintaan ini digambarkan melalui metafore 'menjinakkan'. Sama seperti orang yang punya binatang peliharaan, yang sangat memahami binatang yang telah dijinakkannya, dan binatang peliharaan yang tidak mau dipisahkan dari majikannya. Tentu dalam relasi antar manusia, menjinakkan ini bisa diperhalus menjadi komitmen.

Ketika kita sudah berkomitmen dengan orang lain, maka ada tanggung jawab yang menyertainya. Sebenarnya ini tidak hanya untuk hubungan dengan pasangan ya, tetapi juga menyangkut hubungan sosial lainnya. Seperti kalau kita sudah komitmen menjadi pemimpin organisasi, maka ada tanggung jawab untuk memimpin anggota kita dengan amanah. Komitmen dan tanggung jawab itu sepaket. Kalau tanggung jawab diabaikan, komitmen pun dipertanyakan.


4.Jika lelah dengan tanggung jawab yang dipikul, ingat kembali waktu yang telah dilalui

Tanggung jawab itu kadang kenceng, kadang kendor. Kadang kita lagi semangat-semangatnya, tapi ada juga saat kita lelah selelah-lelahnya. Pada saat-saat seperti ini, pikiran akan melayang ke tempat yang jauh dan mempertanyakan, "kenapa aku harus melakukan ini?", atau "sebegitu berhargakah dirinya?". Kita mulai mempertanyakan dan meragukan.

Melalui cerita Pangeran Cilik, saya jadi tahu kalau kita tidak bisa membandingkan seseorang dengan orang lain. Karena ketika kita sudah memutuskan untuk berkomitmen, persoalannya bukan di "mengapa kok dia seperti ini?" tetapi "apa yang bisa diperbaiki untuk kebaikan bersama?". Mungkin pasangan kita adalah orang yang biasa-biasa saja. Tampang biasa, dompet cukup, pinter lumayan. Bagi orang lain, pasangan kita adalah orang yang biasa saja. Tetapi, bagi kita dia adalah orang yang spesial. Karena dia adalah orang yang kita pilih untuk berbagi kisah dan harapan dalam hidup kita. Juga, karena dia adalah orang yang memilih kita untuk menjadi pendamping hidupnya. Kita telah sama-sama saling memilih untuk menjalani waktu dan berkembang bersama-sama. 

"Waktu yang kamu buang untuk mawarmu, itulah yang membuatnya begitu penting."


Kesimpulan

Pangeran Cilik adalah dongeng anak-anak yang penuh dengan pesan-pesan untuk orang-orang dewasa. Antoine bisa menyulap persoalan komitmen dan tanggung jawab menjadi sebuah dongeng yang indah melalui perumpamaan hubungan Pangeran Cilik dan Mawar. 

Sebenarnya, cerita Pangeran Cilik tidak hanya berkutat pada hubungannya dengan Mawar. Ada juga ceritanya saat menjelajah planet-planet dan bertemu dengan raja-raja yang sombong, suka mabuk, sok serius, dan lain-lain. Tetapi buat saya, pesan moral-nya yang paling ngena adalah di segmen cerita Pangeran Cilik dan Mawar. Saya akan senang sekali kalau ada dari kalian yang punya perspektif berbeda dari apa yang didapat setelah membaca Pangeran Cilik. 

Overall, Pangeran Cilik keren banget. Very recommended!












0 Komentar