(Review Buku) Memaknai Garis Batas di Negeri-Negeri Asia Tengah


Apa yang terlintas di pikiran kita ketika mendengar kata Asia Tengah? Kata Asia Tengah agaknya memang kurang populer. Saya pun perlu menebak-nebak juga dimana Asia Tengah berada. Padahal, wilayah Asia Tengah sebenarnya adalah letak negara-negara berakhiran -Stan berada, seperti Tajikistan, Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan, dan Kirgiztan. 

Buku yang akan saya review ini adalah salah satu kisah perjalanan Agustinus Wibowo. Kalau kalian hobi traveling, pastinya Agustinus Wibowo bukan sosok yang asing. Tetapi buat kalian yang belum tahu, Agustinus Wibowo adalah seorang travel writer. Selain traveler, Agustinus juga seorang penulis. Beberapa karya tulisannya didokumentasikan di website-nya www.agustinuswibowo.com. Dia juga pernah mengisi rubrik Petualang di kompas.com. Garis Batas adalah salah satu buku kisah perjalanannya, selain Titik Nol dan Selimut Debu. Buku ini merangkum pengalaman safar-nya Agustinus Wibowo di negara-negara berakhiran -Stan, dari tahun 2006 sampai 2007.


Lantas, apa menariknya lima negara Asia Tengah tersebut?

Sebelum kita memahami Kazakhstan, Tajikistan, dan teman-temannya, kita perlu flashback ke penghujung tahun 1991, yaitu ketika sebuah negara adikuasa bernama Uni Soviet, runtuh. Setelah Uni Soviet runtuh, wilayahnya yang sangat luas itu, akhirnya terpecah menjadi 12 negara baru. Beberapa diantaranya yaitu, Kazakhstan untuk bangsa Kazakh, Tajikistan untuk bangsa Tajik, Kirgiztan untuk bangsa Kirgiz, Uzbekistan untuk bangsa Uzbek, dan Turkmenistan untuk bangsa Turkmen. Akhiran -Stan diambil dari Persia yang berarti tanah. Jadi kalau Uzbekistan, artinya tanah untuk orang Uzbek. Di sini saya baru tahu walaupun nama mereka terlihat sama, ternyata masing-masing dari bangsa ini bisa sangat berbeda satu sama lain. 

Tajikistan, dikenal sebagai negara termiskin dibandingkan tetangga-tetangganya. Angka pengangguran sangat tinggi dan betapa silaunya bangsa Tajik melihat Rusia. Ketika masih berada dalam pangkuan komunis Soviet, orang-orang Tajik banyak dikirim untuk sekolah. Mereka pun dulunya memiliki pekerjaan terhormat tetapi lantas hilang bersamaan dengan hilangnya Uni Soviet. Yang ada tinggalah Rusia, yang paling banter menerima mereka sebagai kuli bangunan atau penjaga toko.

Lain lagi dengan Uzbekistan. Setelah lepas dari Uni Soviet, negara itu melepas semua peninggalan Uni Soviet. Bahasa Rusia diganti dengan bahasa Uzbek. Patung-patung pahlawan komunis Soviet dihancurkan. Mereka menghapus semua kenangan penjajahan Uni Soviet. Bangsa Rusia yang tinggal di Uzbekistan, bahkan menjadi kelompok yang terpinggirkan. Banyak diantara mereka yang jadi pengemis di jalanan-jalanan Uzbekistan. Orang Rusia menjadi sasaran 'bully' orang-orang Uzbek. Kondisi yang sangat berbeda jika dibandingkan di Kirgiztan atau Kazakhstan, dimana hanya orang Rusia yang bisa memiliki barang-barang mewah.


Pendapat saya tentang buku Garis Batas

First of all, saya sangat suka dengan buku Garis Batas. Ada hal-hal yang bisa saya jadikan pelajaran, baik dari keadaan masyarakat disana maupun pribadi Agustinus sendiri sebagai traveler

Membaca buku Garis Batas, kita seolah dibawa oleh penulis untuk benar-benar merasakan sensasi yang sama seperti yang dia rasakan. Agustinus mendeskripsikan keadaan alam dan situasi sosial dengan sangat detail. Dengan rapi-nya, penulis membagi cerita-nya dalam bab-bab berjudul nama tiap negara. Supaya kita lebih ada gambaran, Agustinus juga mencantumkan peta kawasan Asia Tengah. Buat orang-orang seperti saya (yang minim pengetahuan tentang Asia Tengah), keberadaan peta itu sangat penting karena saya jadi lebih bisa membayangkan lokasinya. Tak kalah menarik, buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto yang cukup membuat saya ingin menginjakkan kaki ke tempat-tempat yang indah, namun juga sangat menantang. 

Melihat uraian Agustinus seputar garis batas, saya jadi tahu bahwa garis batas yang kita bisa lihat di peta, ternyata bukan sebatas memisahkan dua wilayah atau menunjukkan teritori. Lebih jauh lagi, garis batas juga mencerminkan perbedaan sikap, cara pandang, dan nilai-nilai yang dianut suatu bangsa. Dalam bukunya, Agustinus menceritakan seputar Tajikistan dan Afganistan yang hanya dipisahkan oleh aliran sungai bernama Amu Darya. Amu Darya bukan sekedar sungai tetapi sekaligus pemisah antara kehidupan modern Tajikistan dan konservatis Afganistan. 

Kalau kita menengok sejarah, memang sudah sejak dahulu manusia suka membuat garis batas untuk memisahkannya dari orang lain. Tembok Berlin, misalnya, yang memisahkan komunisme Jerman Timur dengan kapitalisme Jerman Barat. Kita pun sebenarnya juga suka membuat garis batas imajiner. Bermula dari preferensi, yang semakin menguat, berlanjut ke pembatasan perspektif, dan berakhir menjadi menutup diri. Tanpa kita sadari, terciptalah garis batas antara kita dengan orang-orang yang berseberangan dengan kita. Keributan juga awalnya dari sini, karena sibuk mempertinggi dan menebalkan garis batasnya. Tidak ada sikap mencoba memahami. Padahal, Tembok Berlin saja bisa runtuh setelah beberapa orang nekat menyebrang perbatasan.


Apakah buku ini recommended?

Tentu saja. Kalau kalian pecinta dunia traveling dan punya cita-cita keliling dunia, please make sure, kalian pernah baca buku ini. Karena melalui Garis Batas, kalian bisa belajar bagaimana cara Agustinus mengatasi masalah keimigrasian yang berbelit-belit, tinggal di kampung yang terisolir, bahkan bisa selamat dari interogasi intel. Buku ini juga cocok buat kalian yang tidak terlalu tertarik dengan dunia traveling, tapi menaruh minat dengan kebudayaan ataupun isu Internasional. Kalian pun juga bisa mendapat wawasan keberagaman bangsa-bangsa Asia Tengah, serta konflik-konflik yang melingkupinya.

Overall, Garis Batas is awesome.

















0 Komentar