Rabu, 19 September 2018

(Review Buku) Sekolah Biasa Saja - Yang Luar Biasa


Pertama kali melihat judulnya saja, saya sudah merasa tersihir untuk membacanya. Karena buku ini kerapkali disandingkan dengan buku Sekolah Itu Candu karya Roem Topatimasang (yang mungkin suatu saat nanti saya buat review-nya juga). Tanpa pikir lama-lama, segera saya kirim pesan ke Penerbit INSIST Press untuk Pre-Order buku ini. 

Sekolah Biasa Saja ditulis oleh Toto Rahardjo, seorang praktisi pendidikan dan salah satu pendiri Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta. Kalau kalian yang suka mendengarkan ceramah Maiyah-an Emha Ainun Nadjib, mungkin akan lebih mengenal beliau sebagai pendiri kelompok musik KiaiKanjeng. Melalui buku ini, Toto menguraikan tentang serba-serbi sekolah, lika-liku sistem pendidikan Indonesia, serta uraiannya tentang SALAM yang didirikannya. Sekolah Biasa Saja lebih banyak menekankan pada gambaran proses pembelajaran yang ada di SALAM.


Schola, School, dan Sekolah

Salah satu segmen menarik dari buku ini adalah ketika Toto menjelaskan asal-usul sekolah secara etimologis. Asal kata sekolah adalah berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu Schola yang artinya waktu luang. Free time. Pada zaman itu, anak-anak Yunani kuno menggunakan waktu luangnya untuk mempelajari sesuatu yang berguna dari orang tua-nya. Orang tua saat itu berperan juga sebagai guru. 

Akan tetapi, lambat laun, karena pekerjaan semakin berkembang, maka orang tua mulai tidak memiliki waktu untuk mengajari anaknya. Para orang tua pun menitipkan anaknya ke orang-orang pintar untuk diajarkan pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan. Dari sinilah muncul konsep sekolah seperti sekarang ini.

Pertanyaannya, apakah sekolah sekarang ini masih sama artinya dengan waktu luang? Menurut saya, sekolah sudah bertransformasi menjadi tuntutan. Memang, kalau kita menggunakan pendekatan pragmatis, sekolah gunanya untuk mendapat ijazah supaya bisa mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan. Yang masih luput dari sekolah adalah menjadi tempat belajar dan memunculkan rasa keingintahuan untuk mempelajari sesuatu. Akan tetapi, dengan beban kurikulum yang harus diselesaikan dalam tempo sesingkat-singkatnya, sebagai guru, itu sungguh pekerjaan yang tidak mudah. Kalau mau mengejar cita-cita pendidikan, guru khawatir materi tidak tersampaikan dan anak gagal ujian.


Mengenal SALAM

Sanggar Anak Alam (SALAM) adalah sekolah alternatif yang berlokasi di Kampung Nitiprayan, Kasihan, Bantul. Di buku ini, Toto memberi gambaran mengenai nilai-nilai yang mendasari pendirian SALAM. SALAM ingin menjadi sekolah yang tidak memisahkan peserta didik dari masyarakat serta akar budayanya. Sebagai gambaran, SALAM ini letaknya di tengah-tengah sawah. Kampung Nitiprayan sendiri dikenal sebagai kampung seniman. Lingkungan sekitar SALAM benar-benar kaya dalam memberi warna pada proses pembelajaran SALAM, begitu pula sebaliknya.

Anak-anak didik SALAM dikondisikan untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat. Ada cerita, ketika anak-anak SALAM pergi ke angkringan dekat sekolah untuk belajar matematika. Selain belajar menghitung jumlah makanan yang dijual dan harganya, mereka juga belajar aneka bangun datar dari apa yang ada di angkringan. Seru sekali ya. 

SALAM juga punya kurikulumnya sendiri. Proses pembelajaran SALAM mengikuti tahap-tahap daur belajar yang sudah dirumuskan yaitu Lakukan, Ungkapkan, Analisa, Kesimpulan, dan Terapkan. Anak-anak didiknya belajar melalui riset mandiri. Iya, riset. Bahkan dari jenjang SD, pembelajaran sudah berbasis riset.

Di buku ini juga ada cerita yang ditulis langsung oleh anak-anak SALAM. Ada yang meriset tentang obat batuk alami. Dia mencari informasi bahan-bahan alami yang berpotensi sebagai obat batuk, membuat berbagai tipe ramuannya, dan mengujinya ke teman-teman serta pengurus SALAM. Ada juga anak SD yang meneliti ramuan perawatan rambut dari bahan-bahan alami. Lebih jelasnya mengenai SALAM, bisa kunjungi website SALAM di www.salamyogyakarta.com .


Kesimpulan saya untuk Sekolah Biasa Saja

Honestly, membaca buku Sekolah Biasa Saja membutuhkan waktu yang cukup panjang, untuk ukuran buku yang tidak terlalu tebal. Saya perlu baca dengan teliti untuk lebih menghayati ide-ide yang ada didalamnya. Saya suka dengan gaya bertutur Toto yang mengalir tetapi tetap jelas. Meskipun isi didalamnya dalam beberapa bagian cenderung berat, tetapi saya merasa seperti diajak berdiskusi langsung oleh Toto. 

Setelah membaca Sekolah Biasa Saja, saya jadi ingin bisa berkunjung ke SALAM untuk melihat langsung proses pembelajaran di sana. Saya lebih cenderung penasaran bagaimana para fasilitator SALAM dapat mendorong anak-anak didiknya untuk mandiri dalam melakukan risetnya, karena menurut saya kemandirian adalah salah satu hal yang kurang dari anak-anak jaman now. Saya merasakan sendiri memberi tugas eksperimen mandiri ke anak didik usia SMP tetapi hanya sedikit dari mereka yang bisa memenuhi ekspektasi. Mungkin juga karena mereka belum pernah melakukan riset mandiri sebelumnya. Menariknya, anak-anak SALAM sudah diajarkan mandiri sejak usia dini. Thumbs up for SALAM.

Pembelajaran berbasis riset, selain untuk melatih cara berpikir logis dan kritis, juga dapat memupuk kemandirian dan kreativitas anak. Tujuan Pendidikan Nasional menurut UU No. 20 tahun 2003 adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Akan tetapi, dengan model pembelajaran yang masih satu arah, bagaimana bisa melatih anak untuk mandiri dan kreatif dalam belajar?

Model belajar SALAM saya pikir perlu dipertimbangkan oleh para birokrat pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Tentu saja perampingan kurikulum menjadi sebuah keniscayaan jika sistem pendidikan nasional benar-benar ingin mengadopsi pembelajaran berbasis riset. Tak lupa juga peningkatan kompetensi guru agar mumpuni dalam mendampingi anak melakukan risetnya. Serta kesadaran orang tua yang perlu dibangun bahwa mereka juga berperan penting dalam pendidikan anaknya dan sekolah bukan sekedar tempat penitipan anak. 


Kalau anda ingin membaca buku Sekolah Biasa Saja dan ingin mendapatkan pengalaman serupa seperti saya, ada sedikit tips untuk anda. Jika anda adalah seorang guru yang merasa tidak ada yang salah dengan pendidikan Indonesia atau anda adalah birokrat instansi pemerintah bidang pendidikan yang merasa sudah nyaman dengan kondisi pendidikan kita sekarang, mungkin sebaiknya anda tidak membaca buku ini. Karena diperlukan keterbukaan pemikiran seluas-luasnya untuk dapat menyelami uraian-uraian penulisnya. Akan tetapi, jika anda memutuskan untuk membacanya, selamat, anda akan menjadi guru dan ASN pendidikan yang jauh lebih kreatif dan lebih bermanfaat. If you want it.

Saya merekomendasikan Sekolah Biasa Saja untuk dibaca oleh orang-orang yang ingin tahu apa kabar pendidikan Indonesia, orang-orang yang tertarik dengan isu pendidikan, guru, kepala sekolah, pejabat dinas pendidikan, maupun para orang tua yang sedang galau memilih pendidikan untuk anaknya. 























2 komentar:

  1. Terimakasih atas reviewnya. Artikel ini kami lansirkan ulang di laman: http://insistpress.com/2018/09/19/review-buku-sekolah-biasa-saja-yang-luar-biasa/

    BalasHapus
  2. sama-sama,terimakasih insistpress ����

    BalasHapus