(Review Buku) The Birth of Science - Lahirnya Ilmu Pengetahuan


The Birth of Science, adalah buku yang membahas proses awal terbentuknya ilmu pengetahuan oleh bangsa Yunani kuno. Buku ini ditulis oleh Andrew Gregory, seorang Professor Sejarah dan Filsafat Sains di University College London. Setelah saya telusuri, Professor Andrew sudah mengeluarkan sebanyak 40 publikasi, diantaranya mencakup tema seputar ancient science, hubungan antara sihir dan sains, dan filsafat sains. 

Secara umum, buku The Birth of Science terbagi dalam 7 bab. Bab-bab tersebut mencakup bahasan mengenai orang-orang Yunani awal, teori-teori ilmiah yang akan dibuktikan, tokoh-tokoh dunia, asal-usul kosmos dan kehidupan, kedokteran dan ilmu hayat, dan ilmu pengetahuan Yunani setelah Aristoteles. Namun pada review ini, saya tidak akan membahas semuanya. Saya hanya pilih beberapa poin penting yang saya ingin bagi ke pembaca. 


Seperti apa kehidupan masyarakat Yunani awal? 

Sebelumnya, perlu kita perjelas bersama. Masyarakat Yunani yang kita maksud disini adalah masyarakat Yunani periode awal, bukan masyarakat negara Yunani sekarang ini. Sudah paham ya. Oke, lanjut.

Bangsa Yunani adalah bangsa yang makmur. Kalau masih ingat pelajaran sejarah SMA tentang peradaban-peradaban bangsa kuno, kita akan tahu betapa majunya negara kota Athena yang hidup dari perdagangan. Karena mereka adalah bangsa yang makmur, kebutuhan pokoknya terpenuhi, orang-orang Yunani memiliki waktu lebih untuk memikirkan dunia di sekitar mereka. Bahasa kerennya menurut teori hierarki kebutuhan Maslow, orang-orang Yunani itu sudah memasuki tingkat kebutuhan aktualisasi diri.

Di Yunani kuno, tidak ada otoritas agama terpusat dan hierarki sosial seperti kasta-kasta. Masyarakat Yunani kuno hidup dalam kebebasan intelektual dan kebebasan berpendapat. Ruang-ruang publik dipenuhi dengan diskusi dan debat antar gagasan. 

Mereka juga meyakini bahwa cosmeo atau cosmos yang berarti alam semesta, dapat mereka pahami. Dengan optimisme inilah, masyarakat Yunani dengan filsuf-filsufnya menguak rahasia alam semesta.


Bagaimana bangsa Yunani bisa menjadi perintis lahirnya ilmu pengetahuan?

Selain bangsa Yunani, beberapa peradaban kuno juga sudah maju. Pada masa itu, peradaban bangsa Babylonia (sekarang Irak dan Syria) sudah maju dengan teknologi-teknologinya. Mereka sudah memiliki sistem penanggalan dan prediksi astronomi. Peradaban Mesir kuno bahkan bisa membuat piramida. Akan tetapi, bangsa Yunani kuno tetap didaulat sebagai pencetus lahirnya ilmu pengetahuan, mengapa?

Karena apa yang dimiliki oleh Peradaban Babylonia dan Mesir adalah teknologi, bukan ilmu pengetahuan. Kalau menurut Professor Andrew, yang dimiliki oleh bangsa Babylonia dan Mesir adalah empeiria (ketangkasan dan ketrampilan), sedangkan bangsa Yunani memiliki episteme (pengetahuan yang mampu menjelaskan alasan dari suatu kasus). Misalnya, bangsa Babylon dapat memprediksi kapan terjadinya gerhana berdasarkan pola penanggalan, akan tetapi mereka tidak bisa menjelaskan proses terjadinya gerhana. Teknologi hanya butuh kepraktisan seperti pertanyaan kapan dan dimana, sementara sains perlu menjawab pertanyaan mengapa dan bagaimana.

Selain itu, bangsa Yunani juga telah memisahkan teori dengan mitos. Bangsa Babylonia dan Mesir, walaupun memiliki kemajuan teknologi yang pesat, mereka masih terikat dengan mitos-mitos seputar dewa. Langit yang melingkupi Bumi, menurut bangsa Mesir adalah perwujudan dewi Langit, Nut yang melengkungkan tubuhnya di atas dewa Bumi, Qub. Bangsa Yunani tidak mau menggunakan dewa-dewa untuk menjelaskan fenomena-fenomena alam. Mereka meyakini bahwa ada sebab-sebab alamiah atas semua fenomena alam. 


Kutipan-kutipan menarik dari buku The Birth of Science :

"Dengan mengetahui bahwa sang pasien akan meninggal, dan memberitahukan hal itu lebih dulu, ia akan dapat membebaskan dirinya dari tuduhan kesalahan." (Hippokrates)
"Kita semestinya tidak menunjukkan rasa jijik yang kekanak-kanakan dalam meneliti hewan-hewan yang tanpak rendah. Karena ada sesuatu yang menakjubkan di dalam diri setiap makhluk hidup." (Aristoteles)
"Beri aku tempat untuk berdiri dan akan kupindahkan dunia ini." (Archimedes)

Dilihat dari tanggal penerbitan, The Birth of Science bukan buku baru. Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Totem Books, USA pada tahun 2001 dengan judul Eureka! The Birth of Science. Hanya saja, buku ini baru diterbitkan dalam bahasa Indonesia setelah 17 tahun sejak pertama kali terbit. Terima kasih kepada Penerbit Octopus, yang telah menerbitkan The Birth of Science dalam versi bahasa Indonesia.

Buku ini, walaupun tema pembahasannya mengarah ke filsafat dan sains, tapi secara umum mudah dipahami. Hanya saja, saya cukup kerja keras untuk paham di bagian tentang asal mula ilmu astronomi. Mungkin saya harus baca berkali-kali agar bisa lebih paham. Akan tetapi, ada segmen-segmen lain yang saya suka, seperti ketika Professor Andrew menjelaskan asal mula ilmu kedokteran dan ilmu biologi. 

The Birth of Science saya rekomendasikan untuk semua mahasiswa ilmu sains dan orang-orang yang menaruh perhatian di bidang sains. Jangan sampai kita yang biasa mengutak-atik rumus fisika, teorema Phytagoras, teori evolusi, stellar parallax, malah tidak paham esensi dari ilmu yang kita pelajari. Kurang lengkap rasanya kalau kita tidak paham sejarah dari ilmu yang kita pelajari.

Kalau kalian berminat untuk mengoleksi The Birth of Science, saya tidak tahu apakah buku ini bisa kalian temukan di toko-toko buku umum. Sampai saat ini saya belum menemukan buku ini dijual di Gramedia. Sebagai referensi saja, saya membeli The Birth of Science melalui Toko Berdikari Book yang berlokasi di Yogyakarta. Untuk pemesanan, bisa dilakukan melalui aplikasi Berdikari Book yang tersedia di Google Play Store. Happy reading!



0 Komentar