(Review Buku) Bukan Pasar Malam - Pramoedya Ananta Toer


Siapa tak kenal Pramoedya Ananta Toer? Penulis legendaris dengan karya fenomenalnya, Tetralogi Buru. Namanya kerapkali disandingkan dengan kata penjara karena memang sudah berkali-kali beliau dipenjarakan oleh rezim. Karyanya yang membangkitkan semangat agaknya cukup merisaukan penguasa pada jamannya.

Buku Pram sempat dilarang beredar di jaman Orde Baru. Kala itu, siapapun yang membawa buku Pram, harus ekstra hati-hati. Acara bedah buku Pram hanya menjadi mimpi siang bolong. Akan tetapi, kini, kita bisa menemukan buku Pram dijual secara bebas. Beruntungnya saya bisa mengoleksi beberapa karya Pram. Terima kasih kepada penerbit Lentera Dipantara yang sudah mencetak buku-bukunya Pram berkali-kali.

Tentunya kurang afdol rasanya kalau membahas buku Pram tanpa membedah buku Tetralogi Buru-nya. Pastinya nanti saya akan mengulas buku Tetralogi Buru. Hanya saja, untuk saat ini saya sedang ingin mereview salah satu buku Pram yang berjudul Bukan Pasar Malam.

Dibandingkan Tetralogi Buru yang berjilid-jilid, Bukan Pasar Malam, hanyalah novel singkat. Bukunya sangat tipis. Kita pun bisa menghabiskan semua isinya dalam sekali duduk. Meksipun begitu, kita tidak bisa menilai sebuah karya dari tebal-tipisnya juga tetapi dari kualitas isi didalamnya.

Bukan Pasar Malam menceritakan tentang seorang laki-laki yang kembali ke kampung halamannya setelah mendapat kabar bahwa ayahnya sakit. Cerita lebih banyak berfokus pada kisah hidup sang ayah yang seorang guru. Ayahnya sakit karena TBC, anggota keluarganya miskin dengan rumah tua-nya yang seolah siap roboh kapanpun. Diceritakan bahwa ayahnya dulu adalah seorang gerilyawan pada masa penjajahan. Beliau ikut berperang mengusir penjajah. 

Akan tetapi, pasca kemerdekaan telah diraih, ayahnya harus menemui realita yang tak sanggup dipikulnya. Beliau melihat kawan-kawannya yang dulu ikut berperang, sibuk berebut kekuasaan dan harta. Ayahnya memilih menjadi guru, membawa anak-anak didiknya dalam nuansa patriotisme. Beliau tak sanggup berontak atas kelakuan kawan-kawannya dan apa yang terjadi pasca kemerdekaan. Yang bisa dilakukannya hanya memendam semua kekecewaan itu dan berakibat pada TBC akut yang dideritanya.

Menurut saya, Bukan Pasar Malam adalah karya Pram yang sifatnya lebih intim, karena membicarakan tentang hubungan anak-ayah dalam suatu keluarga. Novel ini juga mengisahkan hubungan tokoh "aku" dengan istrinya yang terus merajuk serta hubungannya dengan adik perempuannya yang juga jatuh sakit. 

Pram mendeskripsikan tokoh Ayah melalui penilaian tokoh "aku" terhadap ayahnya dan juga melalui percakapan orang-orang di sekitar mereka. Pram tidak lantas menyuguhkan secara lengkap karakter Ayah secara naratif-deskriptif. Melalui percakapan tokoh-tokoh disekitarnya, kita akan mendapat gambaran seperti apa tokoh ayah dan kiprah apa yang dilakoninya dalam perjuangan kemerdekaan bangsa.

Contohnya seperti kutipan ini ketika seorang tamu datang ke lawatan almarhum ayah.

Sore itu dengan perlahan saja datang. Dan di kala matahari hampir saja lenyap di ufuk barat, datanglah tamu baru. Katanya : "Aku sudah lama kenal betul marhum ayah Tuan. Kami dulu mengembara menjalankan tugas di daerah gerilya....."

Secara keseluruhan, boleh dibilang, nuansa idealisme sangat terasa di novel ini. Kita bisa belajar arti idealisme dan memegang prinsip dari tokoh Ayah. Beliau menolak terlibat dalam politik praktis demi memperkaya diri. 

Hanya saja, sebagai tokoh Ayah, kita juga bisa belajar untuk dapat menyuarakan aspirasi dan pendapat kita. Ayah digambarkan sebagai sosok idealis yang memilih memendam semua kekecewaanya dan berakhir pada sakitnya. Menurut saya, tidak ada salahnya kalau kita punya pendapat yang tidak umum, kita juga bisa menyuarakannya. Penolakan atau penerimaan itu hanyalah persepsi orang lain dan itu sangat wajar dalam iklim demokrasi. 

Saya rasa di novel ini pun Pram ingin berkata serupa. Pram ingin menyadarkan kita bahwa memegang prinsip dan berani angkat suara adalah dua hal yang sama pentingnya. Seperti salah satu kutipan terkenal dari Pram, bahwa kebenaran itu tidak datang dari langit, dia mesti diperjuangkan untuk menjadi benar.


0 Komentar