(Review Buku) Kisah-Kisah Tengah Malam - Edgar Allan Poe

Saya adalah penikmat film thriller, apalagi psychothriller. Itulah kenapa setengah dari film-film korea yang saya download adalah film karya sutradara Korea ternama, Park Chan Wook. Old Boy, Sympathy for Lady Vengeance, Joint Security Area, I'm a Cyborg but That's OK, adalah film-film karyanya yang sangat saya sukai. Kalau film psychothriller Indonesia, saya paling suka dengan Modus Anomali karya Joko Anwar. Itu sangat cerdas dan mind-blowing

Kenapa tiba-tiba membicarakan film psychothriller? Karena saya terlebih dahulu mengenal film psychothriller dibandingkan novel atau buku bertema serupa. Saya sering melihat deretan novel-novel horor di Toko Buku, tapi saya memang penakut untuk urusan dunia perhantuan. Saya lebih suka horor dalam arti manipulasi pikiran, bukan menakuti dengan sosok menyeramkan. Karena cukup sering mengkonsumsi film-film psychothriller, saya jadi penasaran ada tidak ya penulis genre psychothriller yang legendaris? Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku karya Edgar Allan Poe.



Kira-kira sekitar 6 tahun yang lalu, saat saya main ke salah satu Toko Buku di Bandung, saya menemukan buku antologi cerpen karya Edgar Allan Poe yang berjudul Kisah-Kisah Tengah Malam. Di situlah saya baru mengenal Edgar Allan Poe (1809-1849), seorang penyair dan penulis cerpen horor dari Amerika. Poe sering disebut sebagai pionir tulisan genre detektif dan kontribusinya yang besar dalam kemunculan genre science-fiction. Saking terpukaunya saya dengan cerita-cerita yang ada di buku Kisah-Kisah Tengah Malam ini, saya jadi curiga jangan-jangan penulis favorit-nya Park Chan Wook dan Joko Anwar adalah Edgar Allan Poe, hehe.

Apa yang spesial dari buku Kisah-Kisah Tengah Malam?

First of all, kalian harus tahu bahwa Edgar Allan Poe ini adalah penulis cerita horor. Memang beberapa diantara cerpennya tidak mengandung unsur hantu atau makhluk gaib, tetapi sebagian memang betul-betul mendeskripsikan makhluk gaib. Saya paling tidak suka cerita hantu, karena saya takut. Anehnya, saya sukses membaca semua ceritanya. Iya, saya membacanya sambil merinding, tetapi saya tetap bisa menikmati ceritanya beserta dengan keseraman yang dihadirkannya. 

Menurut saya, kenapa saya bisa berdamai dengan rasa takut itu, karena Poe menawarkan sesuatu yang selalu saya cari di setiap cerita fiksi, yaitu penasaran. Rasa penasaran yang dibangun Poe dalam tiga belas kisah horor-nya, mengalahkan ketakutan saya. 

Ada salah satu kisah Poe yang berjudul Kotak Persegi Panjang. Ceritanya tentang seorang penumpang kapal yang curiga dengan seniman bernama Mr. Cornelius Wyatt dan istrinya, yang menurutnya wajahnya cukup jelek untuk menjadi istri Mr. Wyatt. Mereka naik kapal dengan barang bawaan spesial-nya yang berupa kotak persegi panjang. Suami dan istri tersebut selalu terlihat mesra layaknya suami-istri saat siang hari, tetapi ketika malam tiba, penumpang itu selalu melihat Mrs. Wyatt pindah ke kamar lain dan terdengar suara Mr. Wyatt membuka kotak persegi panjang-nya. Sampai suatu ketika, musibah terjadi di kapal itu, dan semua penumpang harus di-evakuasi ke sekoci kapal. Mr. Wyatt yang sudah di atas sekoci, bersikeras untuk mengambil kembali kotak persegi panjang-nya yang tertinggal. Dia nekat kembali ke kabin kapal, dan bersama dengan kotak persegi panjang-nya, dia menenggelamkan diri. 

Pertanyaan terbesarnya, mengapa Mr. Wyatt berkeras tidak ingin meninggalkan kotak persegi panjang tersebut? Karena itu adalah mayat Mrs. Wyatt. Ohh....No!

Pendapat saya tentang Kisah-Kisah Tengah Malam

Kisah-Kisah Tengah Malam menyajikan kisah-kisah horor yang tidak selalu berhubungan dengan hantu. Salah satu kisah dalam buku ini, Gema Jantung yang Tersiksa, bercerita tentang kegelisahan seorang pembunuh saat rumahnya dikunjungi polisi. Ada juga kisah lainnya, Potret Seorang Gadis, yang sebenarnya hanya menceritakan tentang pelukis dan lukisannya tapi sukses membuat saya merinding.

Akan tetapi, buat kalian yang memang penikmat horor makhluk gaib, juga bisa menikmati Kisah-Kisah Tengah Malam. Ada kisah berjudul Obrolan dengan Mummy, Setan Merah, Misteri Rumah Keluarga Usher, yang bisa menemani tengah malam kalian. Kalau buat saya, ceritanya yang Kotak Persegi Panjang saja sudah cukup menegangkan.

Buku ini diterbitkan ulang oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama, dan buku yang saya beli di tahun 2012 ini adalah cetakan ketiga-nya. Kalau versi cetakan ketiga ini sepertinya sudah tidak beredar. Tapi sudah ada cetakan keempatnya yang terbit tahun 2017 lalu. Kalau kalian tertarik, kalian bisa coba cari di Gramedia Bookstore atau coba cari di bukukita.com, silakan klik disini.

Selamat membaca dan jangan lupa bersenang-senang....








0 Komentar