(Review Buku) Tjokroaminoto : Guru Para Pendiri Bangsa - Seri Buku TEMPO


Dalam suasana peringatan Hari Pahlawan ini, saya akan mereview sebuah buku yang menceritakan jejak langkah salah satu pahlawan Indonesia. Dia dikenal sebagai ketua salah satu organisasi pergerakan dan suaranya yang menggetarkan hadirin setiap kali berpidato. Dialah guru dari para pendiri bangsa, Haji Oemar Said Tjokroaminoto.

Buku yang saya baca ini adalah seri buku Tempo. Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan Majalah Tempo dalam penyusunannya. Selain Tjokroaminoto juga ada seri buku Tempo yang mengulas tokoh-tokoh lainnya, seperti Moh Yamin, Douwes Dekker, Kartini, dan lain-lain. 

Dari sekian banyak seri buku Tempo tersebut, saya memilih untuk membawa pulang buku Tjokroaminoto. Karena Tjokroaminoto adalah pahlawan favorit saya. Seperti yang tadi sudah saya singgung, beliau adalah ketua salah satu organisasi pergerakan. Boleh dibilang, organisasi pergerakannya ini termasuk yang memiliki jumlah anggota terbesar pada jaman itu. Organisasi tersebut bernama Sarekat Islam.


Sarekat Islam

Sarekat Islam lahir dari organisasi terdahulunya, yaitu Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh Kiai Haji Samanhoedi, seorang pedagang batik di Solo. Samanhoedi mendirikan SDI dalam rangka melindungi pedagang batik pribumi dari tekanan pedagang Cina dan kalangan ningrat Solo. Pada saat itu, kaum bangsawan melarang rakyat biasa untuk memakai motif-motif batik tertentu seperti parang rusak, kawung, sidomukti, dan sidoluhur. Samanhoedi menentang keras feodalisme dan pada tanggal 11 November 1911, Sarekat Dagang Islam berdiri di kampung Laweyan, Solo. Kampung Laweyan sendiri sekarang juga jadi tempat tujuan wisata batik dan sejarah.

Kampoeng Batik Laweyan (Sumber gambar : merdeka.com)

Melalui ajakan Samanhoedi, Tjokro bergabung dengan Sarekat Islam pada Mei 1912. Pada saat itu, situasi Sarekat Islam sedang menemui masa sulit. Sarekat Islam menjadi organisasi yang terbatas pada persaingan bisnis antara pribumi dan Cina. Tidak banyak pergerakan yang dapat dibuat Sarekat Islam. Tjokro, yang saat itu pegawai pabrik gula, ditugaskan oleh Samanhoedi untuk menyusun anggaran dasar serta struktur organisasi. 

Lalu mengapa Tjokro yang seorang pegawai pabrik gula di perusahaan Belanda, diberi mandat sepenting itu oleh Samanhoedi? Tjokro sebenarnya adalah keluarga bangsawan. Beliau lulusan sekolah administrasi pemerintahan dan pernah menjabat sebagai Patih. Karena melihat banyaknya perilaku feodal pemerintahan, Tjokro memutuskan keluar dari jabatannya sebagai Patih dan memilih bekerja di pabrik gula. 

Tjokro menyelamatkan Sarekat Islam. Dia menjalin hubungan baik dengan Belanda, agar Sarekat Islam tetap mulus jalannya, Di bawah kepemimpinannya, Sarekat Islam menjadi organisasi massa terbesar. Empat tahun setelah organisasi itu didirikan, terdapat 180 cabang dengan 700 ribu anggota. 


Tjokroaminoto dan Mereka yang Pernah Singgah di Rumahnya

Tjokro tinggal bersama istri dan lima anaknya di sebuah rumah yang berada di perkampungan padat. Mereka tinggal di bagian depan rumah. Bagian belakang rumahnya, disekat menjadi kamar-kamar kecil untuk tempat kos. Di kamar-kamar kos inilah, tokoh-tokoh pemuda seperti Soekarno, Semaoen, Musso, Kartosuwiryo, pernah tinggal.

Rumah Tjokroaminoto di Gang Peneleh
(sumber gambar : twitter @TICSby)

Rasanya sulit dibayangkan kalau orang-orang tersebut pernah tinggal di tempat yang sama dan berguru pada orang yang sama, yaitu Tjokroaminoto. Mereka semua memiliki ideologi dan jalan politik yang di kemudian hari bersebrangan. Soekarno dengan nasionalisme, Semaoen dan Musso dengan Partai Komunis Indonesia, serta Kartosoewirjo dengan Darul Islam. 

Mereka semua belajar cara memimpin organisasi massa dari Tjokro. Sarekat Islam, di bawah kepemimpinannya berkembang sangat besar dan kuat. Tjokro, yang pada saat itu berusia 33 tahun, memimpin sebuah organisasi dengan 2,5 juta anggota. 

Soekarno, juga belajar cara pidato dari Tjokro. Pidato Tjokro dikenal sangat menggelegar dan membangkitkan semangat siapapun yang mendengarnya. Semaoen, juga belajar siasat politik dan cara orasi dari Tjokro. Karena perselisihan paham, Semaoen kemudian memisahkan diri dari Sarekat Islam dan mendirikan Partai Komunis Indonesia. Begitu pula dengan Kartosoewirjo yang ditunjukkan Tjokro bagaimana cara berbicara di depan massa dan memakai koran sebagai media pergerakan. Kartosoewirjo sempat bekerja di media massa sebelum dia pindah ke Garut dan membentuk Darul Islam. 


Keteladanan dari Tjokroaminoto

Tjokroaminoto menentang keras feodalisme. Dia meyakini bahwa semua orang itu sama. Tidak ada beda antara pribumi dan penjajah. Tjokro mendorong orang-orang untuk berani menggunakan pakaian Eropa, untuk menunjukkan bahwa pribumi dan orang Belanda itu sama. 

Berbeda dengan Boedi Oetomo yang hanya menarik kaum priyayi, Sarekat Islam terbuka lebar bagi semua golongan. Sebelum itu, pribumi hanya dianggap sebagai seperempat manusia. Rakyat-rakyat jelata bisa menjadi anggota Sarekat Islam dan duduk sejajar dengan Belanda dalam pertemuan-pertemuan. Sarekat Islam memberi rakyat biasa sebuah identitas dalam kehidupan bermasyarakat. 

Lewat Tjokroaminoto, kita juga bisa belajar arti toleransi yang sesungguhnya. Tjokro adalah seorang guru yang bijak. Dia memberi ilmu yang sama kepada semua murid-muridnya, yaitu ilmu kepemimpinan organisasi massa. Akan tetapi, untuk apa nantinya ilmu tersebut dimanfaatkan, Tjokro serahkan pada murid-muridnya. 

Ketika Semaoen memilih sosialis-komunis sebagai jalannya, Tjokro tidak memaksanya untuk kembali ke Sarekat Islam. Begitupun ketika Kartosoewirjo dinyatakan bagian dari kelompok garis keras oleh Belanda, Tjokro tidak memintanya untuk mengubah gagasan pemikirannya. Tjokro juga membiarkan Soekarno berjuang dengan nasionalisme dan PNI-nya, tanpa harus mengikuti sosialisme-Islam yang diyakininya. 


Tanggal 17 Desember 1934, Tjokroaminoto dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Beliau dimakamkan di TPU Pakuncen, Wirobrajan, Yogyakarta. Tjokro tidak sempat merasakan gegap-gempita kemerdekaan Indonesia. Pun beliau tidak sempat mendengar teks Proklamasi disiarkan di seluruh radio. Akan tetapi, dari didikannya-lah seorang pemuda 18 tahun bernama Kusno Sosrodihardjo, menjelma menjadi Soekarno Sang Proklamator Kemerdekaan RI.

RIP Tjokroaminoto. Teriring Al-Fatihah untuk beliau.





0 Komentar