Review Buku : Teach Like Finland - Timothy D. Walker


Berbicara tentang pendidikan negara lain, saya sering mendengar orang-orang membicarakan tentang sistem pendidikan Finlandia, yang katanya dinilai sebagai sistem pendidikan terbaik di dunia. Tapi, tunggu....kenapa Finlandia? Sebelum saya mulai mencari tahu tentang Finlandia, saya nyaris tidak tahu apa-apa tentang negara Skandinavia ini. Bahkan saya sempat menyangsikan kehebatan sistem pendidikan Finlandia. Kalau memang sistem pendidikan Finlandia segitu bagusnya, mengapa kebanyakan orang justru kuliah di Amerika, Inggris, Jepang, atau bahkan Korea Selatan? Mengapa yang banyak diadopsi oleh sekolah internasional adalah kurikulum Cambridge atau IB (International Baccalaurate), dan bukannya kurikulum Finlandia?

Akan tetapi, fakta membuktikan bahwa Finlandia memang layak mendapat predikat sistem pendidikan terbaik. Hasil PISA (Programme for International Student Assesment) menunjukkan bahwa Finlandia menempati peringkat 1 untuk reading, maths, and sciences. Bagi yang belum tahu, PISA itu diselenggarakan oleh OECD dengan tujuan mengevaluasi sistem pendidikan di lebih dari 70 negara. Cara mengevaluasinya yaitu dengan melihat kemampuan remaja usia 15 tahun dalam menggunakan konsep-konsep pelajaran yang sudah mereka pelajari.

Dari sinilah Finlandia mulai memasuki ruang-ruang diskusi pendidikan kita. Kita mulai banyak mendengar nama Finlandia digaungkan ketika kita membahas masa depan pendidikan Indonesia. Melalui buku Teach Like Finland, saya jadi paham mengapa negara ini bisa mengantarkan anak-anak bangsanya ke peringkat 1 dunia.

Teach Like Finland ditulis oleh Timothy D. Walker. Timothy adalah seorang guru yang sebelumnya mengajar di Boston, USA. Dia sering merasa tertekan dan stres karena pekerjaannya. Sampai suatu ketika, Timothy pindah mengikuti istrinya yang berkebangsaan Finlandia. Di sinilah Timothy mulai mengenal Finlandia, sebagai suatu lingkungan pendidikan yang jauh dari kata stres. Berkali-kali dalam bukunya, Timothy menyebut kata kebahagiaan. Rupanya inilah yang menjadi filosofi penting pendidikan Finlandia. Kebahagiaan harus diraih dalam proses belajar-mengajar. 

Sebenarnya ada sangat banyak poin-poin berharga yang bisa saya ambil setelah membaca buku ini. Akan tetapi, saya hanya memilih beberapa poin penting yang saya pikir dapat menjadi bahan pertimbangan bagi masa depan pendidikan kita. 

1. Kesehatan fisik peserta didik

Sekolah di Finlandia memiliki aturan jam istirahat yang cukup unik. Setiap pergantian jam pelajaran, diselingi dengan istirahat 15 menit. Dalam waktu 15 menit, anak-anak bisa meregangkan badan, menghirup udara segar, ataupun sekedar membaca buku. Jeda istirahat diyakini penting untuk mengistirahatkan otak sehingga kita lebih mudah dalam menyerap informasi-informasi setelahnya.

Finlandia juga menaruh perhatian besar terhadap kesehatan fisik peserta didik. Pemerintah Finlandia menginisiasi gerakan Finnish Schools on the Move. Salah satu yang dilakukan di sekolah tempat Timothy mengajar adalah dengan dibentuknya recess activator atau penggiat istirahat. Penggiat istirahat ini adalah murid tingkat atas yang sepekan sekali akan mengajak murid yang lebih muda untuk memainkan suatu permainan. Untuk anak-anak tingkat menengah, sekolah bisa memberi waktu 30 menit setiap hari untuk aktivitas fisik. Tujuan dari gerakan ini semata hanya untuk memastikan bahwa pelajar tetap aktif dan sehat.

2. Rasa dimiliki

Seorang anak penting untuk merasa dimiliki di sekolahnya. Guru sebisa mungkin mencoba untuk dekat dengan murid-muridnya. Salah satu cara guru-guru Finlandia dalam mendekatkan diri dengan anak-anak didiknya adalah dengan makan bersama murid-muridnya. Tentu ini tidak setiap saat mereka lakukan, tetapi biasa dijadwalkan. 

Menurut Timothy, rasa dimiliki dalam konteks kegiatan belajar-mengajar juga dapat hadir ketika kita merayakan hasil pembelajaran siswa. Di Finlandia, anak-anak sekolah umum (bukan sekolah kejuruan) bisa mendapatkan pendidikan vokasi seperti menjahit, memasak, bahkan kelas pertukangan kayu. Anak-anak di kelas memasak, misalnya, akan diberi waktu cukup untuk bisa menikmati bersama makanan yang telah mereka buat hari itu. Ketika pelajaran bahasa, misalnya, anak-anak akan diberi kesempatan untuk membacakan puisi yang telah dibuatnya di kelas.

3. Menghapus Bullying dengan KiVa

Bahkan di negara seperti Finlandia pun, kasus bullying di sekolah masih bisa ditemukan. Yang unik dari sekolah-sekolah di Finlandia adalah bagaimana mereka menyelesaikan kasus bullying melalui program nasional bernama KiVa. KiVa diambil dari bahasa Finlandia kiusaamista vastaan yang artinya menghapus bullying. Seperti apa program KiVa ini? 

Katakanlah ada kasus bullying antara dua siswa. Siswa yang merasa menjadi korban dapat melapor ke guru untuk mengajukan pertemuan KiVa. Sebenarnya tidak harus siswa yang menjadi korban, tetapi teman ataupun guru yang melihat kasus bullying pun juga bisa melaporkan. Guru dan anak-anak yang berkonflik ini akan mengisi formulir untuk diserahkan kepada tim KiVa. Tim KiVa sendiri terdiri dari guru dan murid yang lebih tua. Pertemuan KiVa akan dihadiri oleh guru, dua pihak siswa, dan murid yang lebih tua sebagai fasilitator. Murid yang lebih tua ini, sebelumnya sudah mendapat pelatihan untuk bisa menjadi fasilitator KiVa. Dia akan membantu kedua pihak untuk mengidentifikasi masalah dan mencari solusi bersama. 

Menariknya, dalam KiVa, kata "maaf" bukanlah suatu kewajiban. Tujuan KiVa bukan untuk memaksa anak meminta maaf secara tidak sungguh-sungguh, tetapi untuk mencari dan menyelesaikan masalah. Usai pertemuan pertama, biasanya akan terdapat follow-up apakah masih terjadi masalah. Jika masalah tetap ada, maka orang tua akan dilibatkan.


Pendapat saya tentang buku Teach Like Finland

Kalau melihat isinya, saya merasa berterima kasih dengan Timothy karena sudah menyuguhkan kisahnya seputar pendidikan Finlandia. Tulisan ini bagi saya yang seorang guru adalah suatu pencerahan dan sumber inspirasi. Setidaknya dari buku ini saya jadi tahu, bahwa masalah sehari-hari yang ada di sekolah, seperti bullying, kritikan dari orang tua, rupanya juga dirasakan oleh guru-guru Finlandia. 

Akan tetapi, perlu kita ingat bersama bahwa tidak semua hal yang ada di buku ini bisa menjadi masukan bagi pendidikan Indonesia. Sekali lagi, Teach Like Finland, adalah refleksi seorang guru berkebangsaan Amerika, terhadap sistem pendidikan Finlandia. Artinya, ada beberapa hal yang sebenarnya tidak begitu relevan untuk menjadi bahan pertimbangan kita. 

Saya ambil contoh, di bukunya, Timothy membandingkan pendidikan Finlandia yang rileks dan berkebalikan dengan Amerika yang gurunya punya jam kerja sangat panjang karena banyak waktunya dihabiskan untuk menyiapkan rencana pembelajaran. Guru-guru Finlandia punya banyak waktu untuk menikmati istirahatnya saat di sekolah, tidak seperti guru-guru Amerika yang nyaris tidak punya waktu istirahat. 

Tentu kalau kita lihat disini, Indonesia sudah mendekati Finlandia dalam hal keluwesan waktu bagi guru-gurunya. Timothy beberapa kali menyebutkan kurangnya waktu bagi guru Amerika untuk me-recharge energi sepulang sekolah. Di Indonesia, guru-guru saat sudah pulang sekolah, ya sudah tinggal istirahat saja, meskipun beberapa ada yang mencari tambahan penghasilan dengan les.

Contoh yang lain, Timothy menyebutkan bahwa di Amerika penggunaan buku teks dalam pembelajaran termasuk jarang. Guru-guru disana lebih menekankan pada PBL (Project-based learning) sehingga guru harus mempersiapkan rencana pembelajarannya dengan sangat matang. Yang terjadi di Finlandia, sistem pengajaran tradisional pun masih bisa ditemui. Kita masih bisa melihat anak-anak berlatih mengerjakan soal dari buku pelajaran atau mencatat catatan guru di papan tulis. Guru-guru Finlandia menganggap buku pelajaran sebagai pedoman atas hal-hal mendasar apa yang akan mereka ajarkan ke murid-murid. Melalui buku pelajaran, mereka juga merasa menjadi lebih terbantu dalam mengukur kemampuan siswa dan ketercapaian materi. Hmmm....sounds like in Indonesia, right?

Lantas, apakah kita bisa seperti Finlandia? Kalau memang dalam hal tipe kerja gurunya dan penggunaan buku pelajaran kita sudah menyamai, lalu apa yang membuat kita belum bisa seperti Finlandia? 

Di tulisan saya selanjutnya, saya akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Keep reading on my blog!




0 Komentar