Review Buku : The World Until Yesterday (Part 1) - Jared Diamond


Buku yang saya baca kali ini adalah The World Until Yesterday. Penulisnya adalah Jared Diamond, seorang ahli di bidang antropologi yang sudah lama meneliti tentang budaya-budaya masyarakat tradisional. Selain The World Until Yesterday, Jared juga menulis Gun, Germ, Steel, dan Collapse. Review kali ini formatnya sedikit berbeda, karena saya tidak langsung menyelesaikannya dalam satu tulisan utuh. Kenapa? Karena buku ini punya banyak bagian yang menarik, dan saya perlu waktu lebih untuk mencerna setiap bagiannya, dan rasanya terlalu singkat kalau hanya ditulis dalam satu review. Sayang kalau banyak yang dilewatkan.

Di bagian pertama review ini, saya akan menuliskan intisari tentang hukum di masyarakat tradisional. Sebelum saya baca buku ini saya menganggap kalau masyarakat tradisional itu tidak punya hukum. Karena saya hanya tahu praktek perang di masyarakat tradisional. Meskipun mereka mungkin tidak memiliki hukum tertulis, tetapi mereka memiliki tata aturan hukum.

Tujuan hukum 

Dalam memahami perbedaan antara hukum masyarakat non-negara dan masyarakat negara, perlu kita ketahui tentang tujuan adanya hukum di masing-masing tempat. Hukum di negara, bertujuan untuk menegakkan peraturan dan norma yang berlaku di masyarakat, serta upaya pencegahan kejahatan. Makanya kalau ada kasus pembunuhan, hukumannya dipenjara, bukan langsung dieksekusi mati (meskipun dalam beberapa kasus iya). Jadi tak perlu heran kalau setelah putusan pengadilan, kadang korban kurang puas dan tersangka masih mungkin melakukan kejahatan yang sama. Bahkan meskipun hubungan antara terdakwa dan korban yang sebelumnya sangat dekat lalu rusak karena adanya kasus, negara tidak bertanggung jawab atas pemulihan hubungan di antara keduanya. Entah berakhir damai atau tetap tidak saling menerima, itu bukan urusan negara.

Sedangkan hukum di masyarakat tradisional bertujuan untuk mengembalikan hubungan yang rusak karena suatu masalah. Apakah mungkin kalau ada yang dibunuh, lalu balas dibunuh? Sangat mungkin. Tetapi, ada upaya mediasi yang ditempuh. Biasanya akan disepakati besarnya uang duka yang harus dikeluarkan oleh pembunuh dan keluarganya untuk diserahkan ke korban dan keluarganya (bahkan anggota suku). Tidak selalu berbentuk uang, lebih sering menggunakan hasil kebun dan ternak.

Mungkin terlihat aneh, kan yang punya masalah cuma antar dua orang itu, kenapa sampai anggota suku yang bukan keluarganya juga menanggung? Karena, tujuannya untuk mengembalikan hubungan dan masyarakat tradisional memiliki rasa kesukuan yang kuat sekali. Kalau terjadi hal yang tidak mengenakkan dengan anggota sukunya, mereka bisa lho sampai perang antar suku. Untuk mencegah ini terjadi, anggota suku yang bukan keluarganya pun akan mendapat uang duka juga, siapa tahu di kemudian hari ada yang balas dendam.

Apakah hukum masyarakat tradisional lebih baik?

Setelah saya membaca bagian ini, saya bisa mengatakan, tidak juga. Hukum di masyarakat tradisional punya kelebihan dalam hal healing, menyembuhkan, mengembalikan hubungan yang rusak. Ada kalanya kasus hukum menimpa hubungan antara ibu dan anak karena masalah kesalahpahaman.

Pernah dengar kasus ibu dituntut anaknya sekian miliar? Kalau dengan pengadilan, mereka akan menghabiskan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk melewati rangkaian sidang. Hubungan baik keduanya pun bisa jadi akan berakhir saat itu juga. Hakim menjatuhkan vonis, tetapi tidak secara langsung turun tangan terlibat dalam hubungan antara keduanya. Sistem yang berlaku di masyarakat tradisional memungkinkan untuk memperbaiki hubungan tersebut, yaitu dengan upaya mediasi yang biasanya diperantarai oleh orang yang memiliki otoritas dan dipercaya, misalnya kepala suku.

Meskipun begitu, sistem hukum masyarakat tradisional memiliki kelemahan dari sisi preventif pelanggaran hukum. Masyarakat tradisional tidak memiliki polisi. Artinya, tidak ada institusi khusus yang bertugas menangkap dan membawa pelaku kejahatan ke meja persidangan. Akibatnya, masyarakat tradisional menjadi rentan main hakim sendiri. Semua orang dapat bertindak layaknya "polisi" dan bisa dengan mudah memperkarakan orang lain. 

Pendapat saya tentang buku ini
.
Memang untuk membaca buku Jared Diamond itu perlu kerja keras untuk memahami isinya. Apalagi saya tidak punya latar belakang keilmuan antropologi, jadi alih-alih membacanya sebagai supplementary book, saya menganggap buku Mr. Diamond ini layaknya textbook. Terlepas dari itu, saya pikir Jared memang membuat buku ini menjadi bacaan bagi semua kalangan. Bahasanya tidak terlalu teknis keilmuan sehingga saya tidak perlu googling mencari istilah-istilah antropologi ataupun hukum untuk memahami isinya. 

Setelah membaca The World Until Yesterday, terutama bagian hukum, saya jadi lebih aware dengan hukum dan peraturan. Saya jadi terkadang suka iseng-iseng googling untuk mencari penyelesaian suatu permasalahan dari perspektif hukum Indonesia. Kalau menurut tes kepribadian MBTI, saya termasuk orang Perceiving yang mendamba fleksibilitas dan mengutuk ke-saklek-an. Dulu saya dari SD sampai kuliah belajar PPKN (dengan nama-nama yang berbeda), dan sempat belajar Sosiologi di SMP, tentu sudah mendapat banyak pengetahuan tentang peraturan perundang-undangan, nilai, dan norma yang berlaku di masyarakat. Akan tetapi, dari buku inilah, kita bisa mempelajari bahwa masyarakat tradisional, yang hidup tanpa gadget dan gedung bertingkat, pun menemukan arti pentingnya tata aturan  hukum dalam hidup bermasyarakat. 


0 Komentar