(Review Buku) Kelakuan Orang Kaya - Puthut EA


Buku yang saya review kali ini adalah salah satu buku karya penulis ternama, Puthut EA. Beberapa di antara kalian mungkin mengenal Puthut EA sebagai Kepala Suku Mojok (para pembaca Mojok, ayo mana suaranya :D). Buku ini diterbitkan di bulan Agustus tahun ini oleh penerbit Buku Mojok. Bisa dibilang, ya, buku ini masih baru.

Sebenarnya selain buku Kelakuan Orang Kaya, di tahun ini, Puthut juga menerbitkan buku yang tidak kalah menarik, yaitu Dunia Kali. Dari beberapa ulasan, saya tahu kalau isinya kurang lebih bercerita tentang Kali, anaknya mas Puthut. Akan tetapi, berhubung yang saya temukan di Gramedia Matraman adalah Kelakuan Orang Kaya, jadi saya baca buku ini dulu saja.

Buku ini tidak terlalu tebal, meskipun ada sekitar 40-an kisah di dalamnya. Tentunya saya punya beberapa kisah favorit, yaitu Mulyadi dan Mardiasih, Sujud dan Syukur, dan Ayam untuk Rio. Di review kali ini saya tidak mau memberikan banyak spoiler untuk kisah-kisahnya, tetapi saya akan mencantumkan beberapa kalimat kutipan dari buku Kelakuan Orang Kaya.

"Diam-diam, kita punya kadar saling percaya yang besar, yang diwariskan dari sejak manusia bisa berdiri tegak, dan karena itu mereka mulai mengandalkan kerjasama supaya tidak punah berhadapan dengan penyakit, keganasan alam, kelaparan, dan memenangi persaingan dengan para mamalia ganas" (Khianat)
"Mencari rezeki itulah selingan kita. Sebab intinya adalah sujud dan syukur"            (Sujud dan Syukur)
"Lalu kamu bergembira untuk apa? Untuk aibmu yang masih dijaga Tuhan? Untuk kesombonganmu yang masih punya tempat untuk bersemayam?" (Penjara)


Pendapat saya tentang Kelakuan Orang Kaya

Kelakuan Orang Kaya adalah kumpulan kisah ringkas. Bahkan penulisnya sendiri, di kata pengantar, memilih kisah ringkas alih-alih cerpen. Bahkan ada juga kisah yang hampir seluruhnya hanya berisi dialog -dialog pendek. Menurut Puthut, kisah-kisah ini ditulis dengan meniadakan beberapa unsur cerpen. Memang benar, karena ketika saya baca, ada beberapa kisah yang tidak menyiratkan latar tempat ataupun waktu. Kalau di cerpen, sependek-pendeknya, pasti akan mencantumkan setting atau latar. 

Terlepas dari kisah-kisahnya yang amat ringkas, justru saya mengagumi cara bertutur Puthut yang efektif. Cerita yang super pendek tapi bisa tersampaikan pesannya. Walaupun rasanya tidak semua kisahnya bisa saya tarik kesimpulannya. 

Sebenarnya ini sudah ketiga kali-nya saya baca karya Puthut, setelah Isyarat Cinta yang Keras Kepala dan Seekor Bebek Mati di Pinggir Kali. Keduanya adalah kumpulan cerpen, dan seperti yang sudah-sudah, saya selalu terkesan dengan penyampaian Puthut yang bercerita dengan bahasa 'casual'. Di akhir setiap cerita kadang saya akan bergumam 'ooh...iya iya..' atau sekedar ndomblong alias bingung. Menariknya, kalaupun saya tidak mengerti, saya tidak lantas berhenti membaca cerita setelahnya. Saya akan tetap lanjut membaca sampai selesai. 

Menurut saya, itulah yang membuat buku-buku Puthut menjadi spesial karena selalu mampu membuat saya tergerak untuk membacanya sampai akhir. Begitu pula yang terjadi ketika saya membaca Kelakuan Orang Kaya. Saya merasa terhibur, tercerahkan, tergelitik, bahkan terbelalak dengan kumpulan kisahnya. Secara keseluruhan, Kelakuan Orang Kaya is very recommended.







0 Komentar