(Review Buku) Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat


Saya sudah sering melihat review orang-orang tentang buku ini. Melihat judulnya saja sudah menarik dan membuat penasaran. Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat ditulis oleh Mark Manson, seorang blogger. Buku ini merupakan buku pertamanya yang diterjemahkan dari judul aslinya The Subtle Art of Not Giving A F*ck.

Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat adalah buku bertemakan self-improvement. Jujur, buku-buku self-improvement itu termasuk jenis buku yang jarang saya baca. Selama ini saya pikir semua saran yang ada di buku-buku motivasi itu sama. Benang merahnya sama. Selalu menyemangati pembacanya dengan cara dan sudut pandang yang sama. Tapi, ada yang beda dari buku-nya Mark ini. Buku ini membahas tentang sikap bodo amat yang dibutuhkan dalam menjalani hidup. Tentu saja bodo amat yang dimaksud disini lebih dari sekedar maknanya sebagai sebuah umpatan.

Di tulisan review kali ini, saya akan merangkum poin penting yang saya dapat setelah saya membaca bukunya. Poin-poin penting ini sekaligus adalah ide besar dari tips hidup bodo amat ala Mark Manson. Siap-siap ya, karena isi-nya mungkin akan mengguncang nilai-nilai yang selama ini kalian percayai.

1. Kalau kita bisa menentukan kebahagiaan yang ingin kita raih, mengapa kita juga tidak memilih penderitaan yang ingin dijalani?

Sebagai manusia, seringkali kita memiliki ukuran kebahagiaan untuk diri sendiri. Kita akan bahagia kalau kita bisa meraih cita-cita maupun target yang kita tetapkan. Misalnya, kita mau punya rumah sendiri. Itu adalah hal yang ingin kita raih. Kita akan bahagia kalau kita punya rumah sendiri.

Apakah ada yang salah dengan keinginan itu? Tentu tidak. Akan tetapi, apakah kita sudah siap hidup berhemat untuk menabung? Atau, apakah kita siap untuk mencari pekerjaan tambahan, bekerja lebih dari 12 jam sehari, supaya impian punya rumah dapat segera terwujud?

Kita sangat mudah untuk memvisualisasikan kebahagiaan yang ingin kita capai. Sayangnya, seringkali kita lupa untuk memilih penderitaan yang siap kita jalani. Padahal, kalau menurut Mark, memilih penderitaan akan membuat kita lebih santai dalam menghadapi cobaan-cobaan karena dengan sadar kita telah memilihnya. 


2. Kita-lah yang bertanggung jawab atas semua hal dalam hidup kita

Misalnya, kita sudah bekerja bertahun-tahun di suatu perusahaan. Kita sudah sangat bekerja keras tetapi kita tidak kunjung naik jabatan. Dalam situasi seperti ini, sangat mungkin kita akan menyalahkan atasan kita. Kita akan menganggapnya pilih kasih dan tidak apresiatif. Kita berpikir segala krisis keuangan dan stres kerja yang melanda kita itu karena atasan kita yang tidak memperhatikan kita. Kita menyalahkan bos atas penderitaan yang kita hadapi.

Mungkin bisa jadi atasan kita memang kurang menghargai karyawan-karyawannya yang sudah terbukti loyal. Bisa jadi memang dia punya kesalahan. Akan tetapi, pernahkah kita meminta ke atasan untuk naik jabatan?

Menurut Mark, hidup kita sebenarnya adalah kumpulan dari pilihan-pilihan yang kita buat. Kalau atasan tidak menaikkan jabatan, bisa saja itu juga kesalahan kita karena tidak pernah berinisiatif menyampaikan aspirasi kita. Kita bertanggungjawab atas pilihan hidup kita. Kita bertanggungjawab atas ketidakmauan kita untuk berbicara pada atasan. Pada akhirnya, kita bertanggungjawab atas hasil yang kita raih. 

Dengan mengambil tanggung jawab atas segala hal yang terjadi, itu akan membuat hidup kita lebih bahagia. Oke, barangkali atasan kita memang kurang peduli, ya sudah itu adalah kesalahan dia. Lantas apa yang bisa kita lakukan? Sudahkah kita mengutarakan pikiran kita ke atasan? Jika sudah, kalau hasilnya tidak memuaskan, apa yang akan kita pilih? Bertahan atau mencari kesempatan di tempat kerja yang lain? 

Mengambil tanggung jawab atas apa yang terjadi, bukan berarti me-nihil-kan kesalahan pihak lain. Orang lain berbuat salah ke kita, itu adalah kesalahan mereka, tapi kita memilih agar kesalahan mereka tidak berpengaruh terhadap kualitas hidup kita. Artinya, kita tidak menggantungkan kebahagiaan diri kita kepada orang lain.


Pendapat saya tentang Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

Rasanya baru kali ini saya membaca buku tema self-improvement, yang ketika saya membacanya, saya tidak membayangkan penulisnya sebagai sosok yang 'Maha'. Saya serasa seperti ngobrol dengan teman yang bijak. Karena Mark selalu memberi contoh untuk setiap gagasannya. Semua contoh yang Mark berikan selalu menarik dan hidup. Terkadang dia menceritakan pengalaman hidupnya atau kisah orang lain tapi dibawakannya dengan cara yang sangat menarik. Itulah yang membuat saya di tengah kesibukan kerja, sangat bersemangat untuk menyelesaikan buku ini.

Gagasan "bodo amat" versi Mark menurut saya sangat relevan dengan jaman sekarang. Jaman dimana kita terhubung melalui sosial media. Kita disuguhi oleh capaian-capaian orang yang mereka pampangkan di sosial media. Duh, yang itu udah jalan-jalan keliling Indonesia, yang itu sukses dengan bisnis-nya, yang itu baru aja nikah, yang itu baru aja punya baby yang menggemaskan. Kalau nggak kuat, bisa stres lho, haha. 

Menariknya, Mark mengajarkan kepada kita untuk bersikap "bodo  amat". Dalam arti, kita "bodo amat" karena kita telah memilih ukuran kebahagiaan kita sendiri. Juga, kita telah memilih penderitaan yang dengan rela kita jalani, dalam rangka mencapai nilai kebahagiaan itu. Kita tidak akan mudah iri hati terhadap pencapaian orang lain, karena kita telah memilih hal-hal apa yang penting untuk kita. Dengan begitu, kita akan lebih santai dan bebas dari tekanan sosial. If you know what I mean.

If you're in quarter life crisis, I recommend this book for you. Of course, it won't heal your broken-heart or solve your problems instantly. At least, it helps you to see your life clearly. Trust me.














0 Komentar